- Diposting oleh : SMAN 1 BATU SOPANG
- pada tanggal : April 15, 2026
![]() |
| Sumber foto: AI |
Seremonial
peringatan hari guru telah usai, semua guru dan peserta didik melakukan upacara
peringatan dengan khusyuk. Tetapi kita tidak boleh terlena dengan memaknai
momen ini sebagai sebuah seremonial semata. Seremonial itu mari kita anyam
ulang sebagai revleksi dan evaluasi bersama. Mari kita catat, empat lembaga
survey Internasional sampai saat ini masih menempatkan pendidikan Indonesia
pada posisi yang jauh dari kata puas. Pertama, Organization for Economic and Develompment (OECD) menempatkan
Indonesia di urutan 64 dari 65 negara. Kedua, The Learning Curve menempatkan Indonesia pada posisi buncit dari 40
negara yang disurvei. Ketiga, survey TIMS and
Piels menempatkan Indonesia pada posisi 40 dari 42 negara. Sedangkan keempat,
Word Education Forum di bawah naungan
PBB menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 76 negara.
Itulah
pekerjaan rumah yang berat untuk secepatnya diselesaikan. Jangan sampai keadaan
demikian berlanjut menjadi momok yang memilukan. Peran pendidikan menjadi titik
episentrum kemajuan peradaban, jelas tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Terlebih, situasi yang kita jalani sekarang
berubah begitu cepat seiring datangnya revolusi industri 4.0. Era yang biasa disebut sebagai
Revolusi Industri keempat, sebutan dari tren baru dan pertukaran data dalam
teknologi industri, mencakup internet of
things, sistem siber, cloud serta kecerdasan buatan.
Era
4.0, menuntut kita untuk memiliki seperangat kecakapan sosial, adab, serta daya
kritis yang tinggi terhadap kejala kehidupan yang terjadi. Era ini telah banyak
melahirkan bermacam jenis teknologi. Namun, sekali lagi kehadirannya ibarat
mata pisau. Justu banyak melukai kita. Hal itu tentu tidak terlepas dari
pengaruh masih kurangnya kualita pendidikan kita. Kelahiran teknologi itu
berbanding terbalik dari tujuan aslinya. Hoaxs merajalela, media sosial menjadi
bahan pergunjingan, mengadu domba, berkelai dengan teman, saudara bahkan orang
yang belum kita kenal. Sampai perpecahan terjadi sana-sini. Seakan-akan
teknologi memfasilitasi kita untuk mudah berbuat jahat. Padahal tujuannya tidak
seperti itu.
Untuk
itu jangan sampai pendidikan kita kehilangan roh sejatinya, sebagai agen
perbaikan. Di tengah realitas ironi demikian, kehadiran guru dalam usaha
perbaikan dan pengawalan kualitas sangat diperlukan. Sebab guru ibarat nahkoda kapal,
yang siap membawa anak generasinya berlayar, menerjang gelombang ombak yang
besar untuk menemukan daratan yang indah.
Memijam
ungkapan Henry Brooks Adams, seorang guru
mempengaruhi keabadian; ia tidak pernah mengungkapkan di mana pengaruhnya
berhenti. Ungkapan tersebut perlu direnungkan bahwa guru sangat diperlukan
sampai di mana tidak ada batas untuk berhenti. Guru dalam dekadensi modern saat
ini merupakan agen perubahan yang sangat berpengaruh terhadap masa depan
masyarakat, sosial, dan negara.
Di
sinilah dalam menyiapkan peranan guru di masa depan dipersyaratkan memiliki
kompetensi bidang keahlian yang sangat kuat. Kompetensi yang dimaksudkan bukan
saja yang bersifat formal dengan menyiapkan teori dan skema ajar yang begitu
runtut dan teoretis. Tetapi bagaimana guru perlu memiliki; (1) kecakapan
pribadi (personal skil), meliputi
bagaimana pentingnya menjadi guru sebagai panggilan hidup, (2) kecakapan sosial
(social skill), (3) kecakapan
akademik yang meliputi kompetensi diri, intelektualitas-senimannya, juga
perannya sebagai pendidik holistik, serta (4) kompetensi literasinya, dalam
usaha membuka wawasan lebih luas.
Kompetensi-kompetensi
tersebut yang saat ini sangat dibutuhkan, untuk kembali menghidupkan roh
pendidikan sebagaimana mestinya. Kecakapan pribadi tentu sebagai dasar yang
akan memperkuat diri mengarungi belantara keilmuan.
Selain
itu guru juga sangat perlu dan harus memiliki kecakapan sosial. Melalui
kecakapan ini membuat guru tau apa yang dibutuhkan dari dunia pendidikan untuk
kehidupan sehari-hari. Sehingga keilmuan tidak akan berhenti di dalam
ruang-ruang kelas, melainkan akan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan
akademik dan literasi, barangkali menjadi satu paket yang perlu untuk di update, tidak ada kata lulus dalam
belajar dan mengembangkan wawasan, yang ada hanyalah guru harus terus dan terus
belajar. Hal inilah yang kemudian membuat guru mampu menyesuaikan dengan setiap
perkembangan zaman.
Di
akhir, menegaskan bahwa tugas guru begitu berat, mulia, dan luhur dalam usaha
memajukan dunia pendidikan. Guru menjadi agen prubahan untuk anak didik dan
bangsa ke arah yang gemilang. Hal itu tidak cukup berpangku tangan dengan
pendidik yang konvensional dan klise, tetapi haru mampu memberikan arti belajar
yang sesungguhnya di sekolah. Tidak sekadar transfer ilmu pengetahuan, paham
teori selangit, tetapi juga harus mampu menjembatani anak didik untuk menjadi
pemenang. Sehingga, akan terwujud guru seperti dalam lirik himne guru, pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam
kehausan, dan pembangun insan cendekian.
![]() |
| Sumber foto: Kaltim Pos, edisi Rabu, 27 November 2019 |

