- Diposting oleh : SMAN 1 BATU SOPANG
- pada tanggal : April 15, 2026
![]() |
| Sumber foto: AI |
Berbicara sastra di era kekinian, tentu
kita harus menyiapkan seperangkat kesadaran yang luas. Kebanyakan orang masih
saja membayangkan sastra itu sesuatu yang membingungkan, bahasanya susah
dipahami, bahkan yang menyedihkan munculnya persepsi alay, ketika sastra itu dilontarkan. Bahkan, tidak sedikit orang
akan bertanya (a) apa itu sastra? (b) untuk apa kita mempelajari sastra?, (3)
apa untungnya belajar sastra?, dan (4)
apa sastra bisa menghidupi kita?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, sedikit dari
sekian banyak pertanyaan yang kemudian menjadi momok dalam perkembangan sastra
dari hari kehari. Berbeda dari negara-negara lain, seperti Finlandia, Inggris,
Jepang, Jerman yang dengan kokoh menganggap sastra sebagai sebuah keilmuan yang
sangat dihargai.
Pemahaman untuk kemudian
mengenalkan sastra pada sebuah fase keilmuan menjadi hal yang sangat penting. Hanya
segelintir orang yang paham betul jika sastra bukan saja pembesar bahasa
ekspresif, melainkan selalu menyandingkan makna, empatif dan sederet
pengetahuan di dalamnya. Meskipun sastra
tidak bisa lepas dengan bahasanya (imajinatif dan konotatif), namun tidak semata-mata menarik bahasa sebagai hal
yang biasa, alih-alih alay. Melainkan, sastra menarik bahasa menjadi
bagian tubuh yang memiliki kaki, tangan, mata, serta roh kehidupan yang akan
berjalan dilembah batin sesorang.
Bagaimana
Perkembangannya
Ketika melihat periodisasi sastra,
mulai dari era Pujanggan baru sampai angkatan 2000-an, dan berlanjut ke era
kekinian sastra memang mengalami fase perubahan sejalan perkembangan jaman. Hal
itu bisa dilihat dari karakteristik karya yang lahir. Hal ini menjadi cahaya
harapan terhadap dunia sastra kita. Artinya, meskipun hanya segelintir orang,
artinya masih ada yang merawat marwah sastra menjadi hal yang bermanfaat.
Di dunia pendidikan misalnya,
perkembangan sastra terlanjur sepi. Oase sastra masih begitu sempit di benak
pemahaman siswa. Sastra masih kalah sanding dengan bidang lain, semacam sains,
sosiologi, teknik, ekonomi dan lainnya, yang siswa anggap itu lebih menjamin
kehidupannya. Bahkan sastra masih seperti anak tiri yang dipaksakan untuk
mempelajarinya. Belum ada kesadaran menyentuh siswa untuk mempelajari sastra
lebih jauh.
Padahal bersastra sama halnya
berbahasa, berbahasa itu berpikir, berpikir adalah berfilsafat dan keduannya
adalah keilmuan yang penting. Sebenarnya sastra jauh lebih menyentuh batin terdalam.
Artinya dalam konsep keilmuan sastra tidak kalah sanding dengan bidang ilmu
lainnya yang dipelajari di ruang-ruang kelas.
Seperti yang diungkapkan Maman S
Mahayana bahwa sastra mengangkat “sesuatu yang fakta menjadi fiktif”. Sastra tidak merubah keabsahan dan
kebenaran mengenai fakta tersebut, melainkan sastra meramu sesuatu yang fakta
dengan bahasa-bahasa fiktif sehingga memunculkan endapan yang membuat pembaca
harus jauh masuk dalam roh-roh sesuatu yang fakta tersebut.
Lee Youn sastrawan Korea Selatan dalam
makalahnya yang berjudul Kepriyayian
dalam Karya Sastra Berkaca pada Para Priyayi, Karya Umar Kayam mengartikan
sastra merupakan representasi diri realitas dalam masyarakat tertentu sehingga
dapat diketemukan sebuah gambaran mengenai kenyataan sosial yang terwujud dalam
karya sastra. Melalui kenyataan sosial tersebutlah dapat muncul evaluatif
mengenai sikap pengarang yang mencerminkan fakta-fakta dalam sosial saat karya
sastra tersebut dibuat.
Lesunya perkembanan sastra tidak
lain juga dipengaruhi kurangnya pemahaman mengenai bidang kelimuan sastra. Banyak
bidang yang sekaligus masuk sebagai ide pokok dalam sebuah karya sastra
termasuk ekonomi, politik, sosiologi, religius, budaya, serta fiktif-fiktif
lain yang mungkin tidak terjangkau dalam nalar secara umum. Kemudian tumbuh
sebagai ide baru untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Secara proses, sastra lebih
kompleks dan memperlukan banyak pemahaman dalam mengaitkan data dengan sesuatu
makna yang ingin disampaikan kepada pembaca. Budi Darma, karena itu, syarat
sastrawan/ penulis ada dua hal (meminjam bahasa Prof Febiola): (a) ketajaman
hati dan (b) kecerdasan berpikir. Keduan hal ini tentu menjadi sebuah kekayaan
sastra yang memadukan antara hati dan pikiran. Ketajaman hati dalam konteks
temuan jiwa, mencangkup kemampuan menuangkan rasa empati terhadap kehidupan.
Sedangkan kecerdasan berpikir menuntut pada kemampuan menganalisis, menilai,
mengumpulkan informasi, dan membandingkan. Jika dalam bahawa Adi W. Gunawan, kecerdasarn
berpikir juga mencangkup: kebiasaan emosi, memori jangka panjang, kepribadian,
intuisi, kreativitas, persepsi, dan belive
plus velue.
Sastra membagun citra dan
menciptakan stigma, sastra juga menanamkan nilai-nilai dalam pemikiran. Citra
yang kemudian memberikan hasil olah diri untuk lebih memahami sesuatu kehidupan
dengan detail dan selalu bermakna, kemudian akan melatih seseorang untuk berusaha
hidup baik kepada apapun disekitarnya. Akar-akar citra dalam kehidupan anak
memperlihatkan dalam diri seseorang. Terlebih ketika stigma juga turut menjadi
bagian dalam hidup.
Maka, sastra akan berperan sebagai
mata pengetahuan. Hal ini dapat dilihat ketika piki internasional selalu genjar
menerjemahkan dan menganalisis sastra lokal (Indonesia) sebagai objek kajian
yan menarik dan menantang. Seperti Dr. Etiene Naveau dosen saatra INALCO Paris,
Prancis yang sudah banyak mengalih bahasaskan sastra lokal ke dalam bahasa
Prancis. Bersama mahasiswa, ia bekerja untuk menggali banyak informasi mengenai
sastra-sastra lokal sebagai wawasannya. Dr. Lee Yeon yang memilih Universitas
Indonesia untuk meyelesaikan S3-nya mendalami sastra lokal sebagai pembelajaran
kebermaknaannya. Terlihat juga dalam makalahnya Lee Yeon menganalisis kepriyayian
dalam novel Para Priyayi karya Umar
Kayam, ia sangat jelas dan detail dalam menganalisisi isi, maksud dan makna
yang ada dalam novel tersebut. Ditambah lagi mengenai cerita Maman S Mahayana
yang ketika menjadi dosen tamu sastra Indonesia di Hankuk Korea Selatan
menyatakan bahwa paradigma pendidikan Korsel cepat dalam meresapi mengenai
sastra Indonesia. Dari beberapa ungkapan tiga tokoh tersebut jelas membuktikan
bagaimana peran sastra dalam kehidupan sosial ini, yang tidak hanya terbatas
pada sosial tertentu.
Secara kognitif, sastra jauh akan
menuntun ke dalam hutan-hutan kehidupan yang membutuhkan banyak penerangan dan
keyakinan. Karena sastra hakikatnya adalah pendidikan yang memberi kebebasan untuk
berpikir secara realis dan terstruktur. Sehingga akan lebih leluasa dalam
memikirkan mengenai banyak hal yang muncul di lingkungan, kemudian mengilhami,
sekaligus memaknainya dengan mendalam. Sastra tidak dapat diukur secara
matematika, tapi sastra hanya dapat diukur dalam tataran hati dan rasa.
Belajar sastra terasa seperti
menjajaki kisah sejarah yang tersimpan dalam waktu yang telah lekang semakin
lepas dan rapuh terhadap pandangan jaman saat ini. Karena sastra adalah potret
sosial yang menggambarkan keadaan, situasi lingkungan dimana suatu sastra
tersebut dibuat. Penembak misterius
kumpulan cerpennya Seno Gumirah Ajidarma yang pelik mengisahkan masa-masa
pembantaian yang terjadi pada tauhun 80-an dibalut dalam kisah imajianatif dan
pemetaforan menarik memeberi kesan dalam mengenai pemahaman terhadap lingkungan
waktu itu. Atau puisi Monolog Seorang
Veteran yang Tercecer Dari Arsip Negara Ahmadun Yosi Herfanda yang
bercerita mengenai ketabuan kemerdekaan. Orang hanya teriak merdeka tapi masih
tertatih di bawah patung keerdekaannya. Diksi serta kata-kata imajinatifnya
menjajakan kisah yang enggan banyak orang untuk mengakji serta memikirkan
mengenai kemerdekaan. Kepekaan rasa serta kedetailan fikiran membuat seseorang
akan jauh luas mengembara lautan pemikirannya.
Wasana
Akhir
Lalu bagaimana, jika sampai era
kekinian sastra masih saja lesu. Tentu
perlunya seperangkat dukungan, tidak hanya dari balai-balai bahasa atau sastra,
pendidikan, sosial juga menjadi episentrum penting untuk mengenalkan sastra ini
lebih jauh. Ruang-ruang diskusi tentang sastra perlu dibudayakan, bedah karya
sastra perlu digaungkan, pelajaran berbasis sastra yang menyenangkan perlu
diaplikasikan. Sehingga orang tidak selalu
berpikir sastra itu susah, sastra itu sulit, sastra itu menjenuhkan dan
lainnya.
Sehingga sastra hadir tidak
sekadar seremonial untuk dikenang saja. Melainkan menjadi jejak sejarah yang
selalu dinikmati manfaatnnya sepanjag hayat. Bagaimananpun sastra merupakan
seni, yang di dalamnya selalu menawarkan berbagai hal kepada pembacanya. Bahkan
sastra menjadi semacam microfon yang mereda ketegangan antara dunia imajinatif
dengan dunia realistis.
Sehingga kosakata mengada-ada
dalam sebuah sasatra itu perlu diluruskan, sebab seperti yang diungkapkan
Hemingway, hakikatnya sastrawanlah menyampaikan kebenaran yang terjadi dalam
masyarakat. Dengan demikian tentu sastra
tak jauh bedannya dengan pencatat sejarah yang paling jujur.
