Skip to Content
Loading...
Admin Humas
Admin Humas
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Menengok Perkembangan Sastra di Era Kekinian


Sumber foto: AI

Berbicara sastra di era kekinian, tentu kita harus menyiapkan seperangkat kesadaran yang luas. Kebanyakan orang masih saja membayangkan sastra itu sesuatu yang membingungkan, bahasanya susah dipahami, bahkan yang menyedihkan munculnya persepsi alay, ketika sastra itu dilontarkan. Bahkan, tidak sedikit orang akan bertanya (a) apa itu sastra? (b) untuk apa kita mempelajari sastra?, (3) apa untungnya belajar sastra?,  dan (4) apa sastra bisa menghidupi kita?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, sedikit dari sekian banyak pertanyaan yang kemudian menjadi momok dalam perkembangan sastra dari hari kehari. Berbeda dari negara-negara lain, seperti Finlandia, Inggris, Jepang, Jerman yang dengan kokoh menganggap sastra sebagai sebuah keilmuan yang sangat dihargai.

Pemahaman untuk kemudian mengenalkan sastra pada sebuah fase keilmuan menjadi hal yang sangat penting. Hanya segelintir orang yang paham betul jika sastra bukan saja pembesar bahasa ekspresif, melainkan selalu menyandingkan makna, empatif dan sederet pengetahuan di dalamnya.  Meskipun sastra tidak bisa lepas dengan bahasanya (imajinatif dan konotatif), namun  tidak semata-mata menarik bahasa sebagai hal yang biasa, alih-alih alay.  Melainkan, sastra menarik bahasa menjadi bagian tubuh yang memiliki kaki, tangan, mata, serta roh kehidupan yang akan berjalan dilembah batin sesorang.

Bagaimana Perkembangannya

Ketika melihat periodisasi sastra, mulai dari era Pujanggan baru sampai angkatan 2000-an, dan berlanjut ke era kekinian sastra memang mengalami fase perubahan sejalan perkembangan jaman. Hal itu bisa dilihat dari karakteristik karya yang lahir. Hal ini menjadi cahaya harapan terhadap dunia sastra kita. Artinya, meskipun hanya segelintir orang, artinya masih ada yang merawat marwah sastra menjadi hal yang bermanfaat.

Di dunia pendidikan misalnya, perkembangan sastra terlanjur sepi. Oase sastra masih begitu sempit di benak pemahaman siswa. Sastra masih kalah sanding dengan bidang lain, semacam sains, sosiologi, teknik, ekonomi dan lainnya, yang siswa anggap itu lebih menjamin kehidupannya. Bahkan sastra masih seperti anak tiri yang dipaksakan untuk mempelajarinya. Belum ada kesadaran menyentuh siswa untuk mempelajari sastra lebih jauh.

Padahal bersastra sama halnya berbahasa, berbahasa itu berpikir, berpikir adalah berfilsafat dan keduannya adalah keilmuan yang penting. Sebenarnya sastra jauh lebih menyentuh batin terdalam. Artinya dalam konsep keilmuan sastra tidak kalah sanding dengan bidang ilmu lainnya yang dipelajari di ruang-ruang kelas.

Seperti yang diungkapkan Maman S Mahayana bahwa sastra mengangkat “sesuatu yang fakta menjadi fiktif”. Sastra tidak merubah keabsahan dan kebenaran mengenai fakta tersebut, melainkan sastra meramu sesuatu yang fakta dengan bahasa-bahasa fiktif sehingga memunculkan endapan yang membuat pembaca harus jauh masuk dalam roh-roh sesuatu yang fakta tersebut.

Lee Youn sastrawan Korea Selatan dalam makalahnya yang berjudul Kepriyayian dalam Karya Sastra Berkaca pada Para Priyayi, Karya Umar Kayam mengartikan sastra merupakan representasi diri realitas dalam masyarakat tertentu sehingga dapat diketemukan sebuah gambaran mengenai kenyataan sosial yang terwujud dalam karya sastra. Melalui kenyataan sosial tersebutlah dapat muncul evaluatif mengenai sikap pengarang yang mencerminkan fakta-fakta dalam sosial saat karya sastra tersebut dibuat.

Lesunya perkembanan sastra tidak lain juga dipengaruhi kurangnya pemahaman mengenai bidang kelimuan sastra. Banyak bidang yang sekaligus masuk sebagai ide pokok dalam sebuah karya sastra termasuk ekonomi, politik, sosiologi, religius, budaya, serta fiktif-fiktif lain yang mungkin tidak terjangkau dalam nalar secara umum. Kemudian tumbuh sebagai ide baru untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Secara proses, sastra lebih kompleks dan memperlukan banyak pemahaman dalam mengaitkan data dengan sesuatu makna yang ingin disampaikan kepada pembaca. Budi Darma, karena itu, syarat sastrawan/ penulis ada dua hal (meminjam bahasa Prof Febiola): (a) ketajaman hati dan (b) kecerdasan berpikir. Keduan hal ini tentu menjadi sebuah kekayaan sastra yang memadukan antara hati dan pikiran. Ketajaman hati dalam konteks temuan jiwa, mencangkup kemampuan menuangkan rasa empati terhadap kehidupan. Sedangkan kecerdasan berpikir menuntut pada kemampuan menganalisis, menilai, mengumpulkan informasi, dan membandingkan. Jika dalam bahawa Adi W. Gunawan, kecerdasarn berpikir juga mencangkup: kebiasaan emosi, memori jangka panjang, kepribadian, intuisi, kreativitas, persepsi, dan belive plus velue.

Sastra membagun citra dan menciptakan stigma, sastra juga menanamkan nilai-nilai dalam pemikiran. Citra yang kemudian memberikan hasil olah diri untuk lebih memahami sesuatu kehidupan dengan detail dan selalu bermakna, kemudian akan melatih seseorang untuk berusaha hidup baik kepada apapun disekitarnya. Akar-akar citra dalam kehidupan anak memperlihatkan dalam diri seseorang. Terlebih ketika stigma juga turut menjadi bagian dalam hidup.

Maka, sastra akan berperan sebagai mata pengetahuan. Hal ini dapat dilihat ketika piki internasional selalu genjar menerjemahkan dan menganalisis sastra lokal (Indonesia) sebagai objek kajian yan menarik dan menantang. Seperti Dr. Etiene Naveau dosen saatra INALCO Paris, Prancis yang sudah banyak mengalih bahasaskan sastra lokal ke dalam bahasa Prancis. Bersama mahasiswa, ia bekerja untuk menggali banyak informasi mengenai sastra-sastra lokal sebagai wawasannya. Dr. Lee Yeon yang memilih Universitas Indonesia untuk meyelesaikan S3-nya mendalami sastra lokal sebagai pembelajaran kebermaknaannya. Terlihat juga dalam makalahnya Lee Yeon menganalisis kepriyayian dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam, ia sangat jelas dan detail dalam menganalisisi isi, maksud dan makna yang ada dalam novel tersebut. Ditambah lagi mengenai cerita Maman S Mahayana yang ketika menjadi dosen tamu sastra Indonesia di Hankuk Korea Selatan menyatakan bahwa paradigma pendidikan Korsel cepat dalam meresapi mengenai sastra Indonesia. Dari beberapa ungkapan tiga tokoh tersebut jelas membuktikan bagaimana peran sastra dalam kehidupan sosial ini, yang tidak hanya terbatas pada sosial tertentu.  

Secara kognitif, sastra jauh akan menuntun ke dalam hutan-hutan kehidupan yang membutuhkan banyak penerangan dan keyakinan. Karena sastra hakikatnya adalah pendidikan yang memberi kebebasan untuk berpikir secara realis dan terstruktur. Sehingga akan lebih leluasa dalam memikirkan mengenai banyak hal yang muncul di lingkungan, kemudian mengilhami, sekaligus memaknainya dengan mendalam. Sastra tidak dapat diukur secara matematika, tapi sastra hanya dapat diukur dalam tataran hati dan rasa.

Belajar sastra terasa seperti menjajaki kisah sejarah yang tersimpan dalam waktu yang telah lekang semakin lepas dan rapuh terhadap pandangan jaman saat ini. Karena sastra adalah potret sosial yang menggambarkan keadaan, situasi lingkungan dimana suatu sastra tersebut dibuat. Penembak misterius kumpulan cerpennya Seno Gumirah Ajidarma yang pelik mengisahkan masa-masa pembantaian yang terjadi pada tauhun 80-an dibalut dalam kisah imajianatif dan pemetaforan menarik memeberi kesan dalam mengenai pemahaman terhadap lingkungan waktu itu. Atau puisi Monolog Seorang Veteran yang Tercecer Dari Arsip Negara Ahmadun Yosi Herfanda yang bercerita mengenai ketabuan kemerdekaan. Orang hanya teriak merdeka tapi masih tertatih di bawah patung keerdekaannya. Diksi serta kata-kata imajinatifnya menjajakan kisah yang enggan banyak orang untuk mengakji serta memikirkan mengenai kemerdekaan. Kepekaan rasa serta kedetailan fikiran membuat seseorang akan jauh luas mengembara lautan pemikirannya.

Wasana Akhir

Lalu bagaimana, jika sampai era kekinian sastra masih saja lesu.  Tentu perlunya seperangkat dukungan, tidak hanya dari balai-balai bahasa atau sastra, pendidikan, sosial juga menjadi episentrum penting untuk mengenalkan sastra ini lebih jauh. Ruang-ruang diskusi tentang sastra perlu dibudayakan, bedah karya sastra perlu digaungkan, pelajaran berbasis sastra yang menyenangkan perlu diaplikasikan. Sehingga orang tidak selalu  berpikir sastra itu susah, sastra itu sulit, sastra itu menjenuhkan dan lainnya.

Sehingga sastra hadir tidak sekadar seremonial untuk dikenang saja. Melainkan menjadi jejak sejarah yang selalu dinikmati manfaatnnya sepanjag hayat. Bagaimananpun sastra merupakan seni, yang di dalamnya selalu menawarkan berbagai hal kepada pembacanya. Bahkan sastra menjadi semacam microfon yang mereda ketegangan antara dunia imajinatif dengan dunia realistis.

Sehingga kosakata mengada-ada dalam sebuah sasatra itu perlu diluruskan, sebab seperti yang diungkapkan Hemingway, hakikatnya sastrawanlah menyampaikan kebenaran yang terjadi dalam masyarakat.  Dengan demikian tentu sastra tak jauh bedannya dengan pencatat sejarah yang paling jujur.

Untuk itu, ketika sastra berbicara maka hatipun merasakannya. Sastra seperti benang putih yang menampung segala emosi seseorang. Sebab seperti kata Tiana Rosa sastra sama dengan Cinta: membutuhkan apresiasi, kreasi dan ekspresi.

Berbagi

Postingan Terkait

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?