- Diposting oleh : SMAN 1 BATU SOPANG
- pada tanggal : April 15, 2026
Situasi
Literasi
numerasi masih menjadi tugas penting pendidikan di tengah zaman yang kian
berkembang pesat untuk dibumikan agar menjadi kebudayaan. Perkembangan zaman
menuntut manusia untuk terus belajar mendalam, tidak hanya sekadar tau ‘apa’
tetapi juga harus tau ‘bagaimana’, dan ‘mengapa’. Daya kritis, etos kerja
berkembang perlu diasah sedemikian kuat, agar tidak terbelenggu zaman. Apalagi
dengan melihat skor keterampilan global yang diukur dalam Programme for
International Student Assessment atau PISA selalu saja belum menggambarkan
kualitas generasi muda Indonesia yang bermutu tinggi.
Situasi
itulah kemudian menjadi salah satu yang melatar belakangi lahirnya praktik baik
ini. Terlebih sebagai guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Batu Sopang menyaksikan
menulis masih menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan bagi murid. Kenapa
menulis, karena menulis adalah ketrampilan berbahasa paling tinggi. Misalkan
saja dalam pelajaran menulis cerpen, murid masih terbelenggu banyak keluhan; buntu
ketika paragraf pertama, kurang fokus, alur cerita yang kurang runtut, dan
beragam keluhan lain. Situasi kedua ini yang memantik saya untuk berinovasi
mencipatakan sesuatu yang baru untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Jika
merujuk pada sebuah pandangan para penulis-penulis besar macam; Seno Gumorah
Aji Darma, Nurel Javisyarki, Srikit Syah, Danarto menulis kuncinya hanya satu
‘menulislah’ tetapi nampaknya ini menjadi rumus yang sulit untuk diselesaikan.
Terlebih di gempuran zaman yang instan saat ini. Perlakuan berulang menjadi
kunci kemahiran, tidak itu saja ibarat orang usaha perlunya adanya modal.
Menulis, apapun itu tidak bisa tanpa modal, satu-satunya modal menulis hanyalah
pengetahuan. Keberadaaanya penting menjadi alur terciptanya karya yang baik. Model
ALARM yang berakronim; Amati, Letakkan, Analisis, Realisasikan, dan
Munculkan barangkali bisa menjadi satu jawaban untuk menciptakan kebudayaan
pembelajaran yang mampu menyelesaikan masalah atas situasi tersebut.
Tantangan
Tidak
ada yang instan, begitulah dalam menerapkan praktik baik ini. Tantangan tidak
dipungkiri pasti menjadi hal yang harus dihadapi, diantaranya; (a) konsistensi,
ini menjadi satu hal wajib untuk dirawat, sebab menjadi salah satu penentu
keberhasilan dalam mengaplikasikan praktik baik ini, (b) budaya yang kurang
terbangun, menjadi kendala kedua yang bisa membuat rasa malas, (c) faktor
manusia atau human error yaitu diri saya sendiri sebagai guru di kelas, rasa
cemas masih saja menjadi penghalang dalam menyusun inovasi baru, (d) peserta
didik yang tidak jujur atas dirinya sendiri, mereka tidak melakukan secara bertahap
tetapi kerja cepat asal selesai dengan mencontek teman lain.
Aksi
Adapun
aksi yang perlu dilakukan untuk mengatasi tantangan yang ada diantaranya
melalui mekanisme model pembelajaran ALARM. Model ini semacam roh pembelajaran
mengikat makna yang pernah diajarkan Hernowo Hasim dalam bukunya yang berjudul
“Mengikat Makna Untuk Remaja”. Tekni tersebut melatih konsistensi dalam berproses
menciptakan pembelajaran yang bermakna. Model ini bisa dikombinasikan dalam
semua pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks maupun nonteks.
Perlu
diingat model ini mengajarkan sebuah proses, dimana pembelajaran tidak hanya
berakhir sebuah nilai, tetapi makna yang berkesan. Di awal semester perlu
diinteruksikan kepada murid untuk menyiapkan buku khusus baik dalam bentuk
digital atau manual, bayangkan saja semacam tabungan informasi.
Dimulai
proses amati, proses ini penting dilakukan, amati artinya murid diminta untuk
turun langsung mengamati situasi sekitar dari berbagai sumber; baik majalah,
koran, internet, karya ilmiah atau yang lain. Misalkan saja dalam pelajaran menulis
teks cerpen, murid perlu mengamati situasi sosial sebanyak-banyaknya sebagai
sumber ide cerpen mereka, sebelum menyampaikan dalam teks.
Pegetahuan-pengetahuan itulah yang menjadi modal untuk menciptakan tulisan yang
berkualitas.
Kemudian
yang kedua letakkan, apa yang sudah kamu (murid) amati ke dalam buku tabungan
informasi. Langkah ini penting, meskipun sederhana tetapi sangat berdampak
dalam proses pembelajaran. Perlu disadari bahwa kemampuan otak dalam mengingat
sangat terbatas, maka dari itu letakkan ke dalam catatan agar tidak hilang. Apa
yang perlu di letakkan? catatan penting yang relevan dengan projek tulisan yang
ingin murid buat. Jika ingin menulis
cerpen, murid perlu mengamati bagaimana teknik pengaluran, kebahasaan, penokohan,
latar/ seting dan lainnya.
Dampak
lain dari mencatat ini sekaligus murid bisa benar-benar memaknai bahwa apa yang
ditulisnya penting untuk diingat dan dijadikan data. Maka dari itu untuk
mengukur sejauh mana proses ini berjalan konsisten, saat murid mencatat perlu
menuliskan sumber secara lengkap, serta data waktu kapan murid menulis.
Diusahakan setiap hari mereka minimal mencatat satu infomasi dari hasil
pengamatan mereka. Hal itu berkaitan dengan proses kontrol guru untuk melatih
konsistensi murid.
Ketiga
analisis, jadi tidak semua yang dicatat itu perlu dimasukkan semua sebagai
sumber data tulisan. Perlu dianalisis mana yang sangat penting dan relevan
untuk menguatkan tulisan murid. Disinilah murid bisa mendalami mengenai hal-hal
yang mereka anggap penting dalam catatan. Baik dalam bentuk data teks narasi
maupun data angka-angka.
Keempat,
tahap yang cukup penting yakni realisasikan, murid menuangkan ke dalam
projek tulisan yang ingin diselesaikan, misalnya cerpen. Sesuai namanya
‘alarm’, saya menggunakan waktu untuk melatih murid menulis mengalir. Misal
satu menit, murid diminta menulis apa saja dari yang sudah mereka ingat dari
catatan, tanpa memikirkan baik buruknya, baku/ tidak baku tulisan. Intinya
mereka harus menulis mengalir selama satu menit tanpa henti. Ini melatih murid
untuk membiasakan menulis mengalir, berbekal data yang sudah mereka catatat.
Menulis
merupakan satu ketrampilan tertinggi dalam Bahasa. Menulis tidak bisa lahir
begitu saja tanpa modal apa-apa, semuanya butuh proses berulang, dan modal
pengetahuan yang kuat. Maka dari itu mengamati dan melakukan pencatatan menjadi
awalan yang cukup penting untuk kemudian menjawab segala permasalahan yang
menjadi kendala murid menulis.
Terakhir,
yang keempat adalah munculkan, murid juga perlu pembiasaan untuk berani
menampilkan tulisannya dibaca publik, maka dari itu saya memanfaatan Web
sekolah, media sosial, bahkan pembukuan karya bersama.
Refleksi
Dampak
yang jelas terasa dari aksi yang sudah berjalan terlihat ketika murid sudah
bisa menulis dengan lancar, runtut dan fokus. Di bandingkan di awal semester, sebagian
besar murid masih mengalami kesulitan dalam menuangkan ide/ gagasan yang
runtut, kehilangan alur cerita, buntu, dan terjebak pada kemiskinan kosakata
yang berakibat pada pengulangan kata yang sama. Situasi tersebut kemudian
membuat saya berpikir untuk mencari jalan solusinya, agar permasalahan tersebut
tidak berangsur sampai lulus sekolah dan hanya mengandalkan google.
Model
ALARM sekaligus membuktikan bahwa menulis tidak bisa lahir instan, semua butuh
dilatih dengan proses yang konsisten. Proses yang baik akan menjawab hasil yang
baik, model ALARM bisa menjadi satu trobosan dalam memulai untuk menciptakan
budaya literatif.
