Skip to Content
Loading...
Admin Humas
Admin Humas
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Membudayakan Literasi Numerasi Siswa SMA dalam Praktik Menulis Teks Cerpen Melalui Model ALARM


Sumber foto (AI)


Situasi

Literasi numerasi masih menjadi tugas penting pendidikan di tengah zaman yang kian berkembang pesat untuk dibumikan agar menjadi kebudayaan. Perkembangan zaman menuntut manusia untuk terus belajar mendalam, tidak hanya sekadar tau ‘apa’ tetapi juga harus tau ‘bagaimana’, dan ‘mengapa’. Daya kritis, etos kerja berkembang perlu diasah sedemikian kuat, agar tidak terbelenggu zaman. Apalagi dengan melihat skor keterampilan global yang diukur dalam Programme for International Student Assessment atau PISA selalu saja belum menggambarkan kualitas generasi muda Indonesia yang bermutu tinggi.

Situasi itulah kemudian menjadi salah satu yang melatar belakangi lahirnya praktik baik ini. Terlebih sebagai guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Batu Sopang menyaksikan menulis masih menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan bagi murid. Kenapa menulis, karena menulis adalah ketrampilan berbahasa paling tinggi. Misalkan saja dalam pelajaran menulis cerpen, murid masih terbelenggu banyak keluhan; buntu ketika paragraf pertama, kurang fokus, alur cerita yang kurang runtut, dan beragam keluhan lain. Situasi kedua ini yang memantik saya untuk berinovasi mencipatakan sesuatu yang baru untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Jika merujuk pada sebuah pandangan para penulis-penulis besar macam; Seno Gumorah Aji Darma, Nurel Javisyarki, Srikit Syah, Danarto menulis kuncinya hanya satu ‘menulislah’ tetapi nampaknya ini menjadi rumus yang sulit untuk diselesaikan. Terlebih di gempuran zaman yang instan saat ini. Perlakuan berulang menjadi kunci kemahiran, tidak itu saja ibarat orang usaha perlunya adanya modal. Menulis, apapun itu tidak bisa tanpa modal, satu-satunya modal menulis hanyalah pengetahuan. Keberadaaanya penting menjadi alur terciptanya karya yang baik. Model ALARM yang berakronim; Amati, Letakkan, Analisis, Realisasikan, dan Munculkan barangkali bisa menjadi satu jawaban untuk menciptakan kebudayaan pembelajaran yang mampu menyelesaikan masalah atas situasi tersebut.

 

Tantangan

Tidak ada yang instan, begitulah dalam menerapkan praktik baik ini. Tantangan tidak dipungkiri pasti menjadi hal yang harus dihadapi, diantaranya; (a) konsistensi, ini menjadi satu hal wajib untuk dirawat, sebab menjadi salah satu penentu keberhasilan dalam mengaplikasikan praktik baik ini, (b) budaya yang kurang terbangun, menjadi kendala kedua yang bisa membuat rasa malas, (c) faktor manusia atau human error yaitu diri saya sendiri sebagai guru di kelas, rasa cemas masih saja menjadi penghalang dalam menyusun inovasi baru, (d) peserta didik yang tidak jujur atas dirinya sendiri, mereka tidak melakukan secara bertahap tetapi kerja cepat asal selesai dengan mencontek teman lain.

 

Aksi

Adapun aksi yang perlu dilakukan untuk mengatasi tantangan yang ada diantaranya melalui mekanisme model pembelajaran ALARM. Model ini semacam roh pembelajaran mengikat makna yang pernah diajarkan Hernowo Hasim dalam bukunya yang berjudul “Mengikat Makna Untuk Remaja”. Tekni tersebut melatih konsistensi dalam berproses menciptakan pembelajaran yang bermakna. Model ini bisa dikombinasikan dalam semua pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks maupun nonteks.

Perlu diingat model ini mengajarkan sebuah proses, dimana pembelajaran tidak hanya berakhir sebuah nilai, tetapi makna yang berkesan. Di awal semester perlu diinteruksikan kepada murid untuk menyiapkan buku khusus baik dalam bentuk digital atau manual, bayangkan saja semacam tabungan informasi.

Dimulai proses amati, proses ini penting dilakukan, amati artinya murid diminta untuk turun langsung mengamati situasi sekitar dari berbagai sumber; baik majalah, koran, internet, karya ilmiah atau yang lain. Misalkan saja dalam pelajaran menulis teks cerpen, murid perlu mengamati situasi sosial sebanyak-banyaknya sebagai sumber ide cerpen mereka, sebelum menyampaikan dalam teks. Pegetahuan-pengetahuan itulah yang menjadi modal untuk menciptakan tulisan yang berkualitas.

Kemudian yang kedua letakkan, apa yang sudah kamu (murid) amati ke dalam buku tabungan informasi. Langkah ini penting, meskipun sederhana tetapi sangat berdampak dalam proses pembelajaran. Perlu disadari bahwa kemampuan otak dalam mengingat sangat terbatas, maka dari itu letakkan ke dalam catatan agar tidak hilang. Apa yang perlu di letakkan? catatan penting yang relevan dengan projek tulisan yang ingin murid buat.  Jika ingin menulis cerpen, murid perlu mengamati bagaimana teknik pengaluran, kebahasaan, penokohan, latar/ seting dan lainnya.

Dampak lain dari mencatat ini sekaligus murid bisa benar-benar memaknai bahwa apa yang ditulisnya penting untuk diingat dan dijadikan data. Maka dari itu untuk mengukur sejauh mana proses ini berjalan konsisten, saat murid mencatat perlu menuliskan sumber secara lengkap, serta data waktu kapan murid menulis. Diusahakan setiap hari mereka minimal mencatat satu infomasi dari hasil pengamatan mereka. Hal itu berkaitan dengan proses kontrol guru untuk melatih konsistensi murid.

Ketiga analisis, jadi tidak semua yang dicatat itu perlu dimasukkan semua sebagai sumber data tulisan. Perlu dianalisis mana yang sangat penting dan relevan untuk menguatkan tulisan murid. Disinilah murid bisa mendalami mengenai hal-hal yang mereka anggap penting dalam catatan. Baik dalam bentuk data teks narasi maupun data angka-angka.

Keempat, tahap yang cukup penting yakni realisasikan, murid menuangkan ke dalam projek tulisan yang ingin diselesaikan, misalnya cerpen. Sesuai namanya ‘alarm’, saya menggunakan waktu untuk melatih murid menulis mengalir. Misal satu menit, murid diminta menulis apa saja dari yang sudah mereka ingat dari catatan, tanpa memikirkan baik buruknya, baku/ tidak baku tulisan. Intinya mereka harus menulis mengalir selama satu menit tanpa henti. Ini melatih murid untuk membiasakan menulis mengalir, berbekal data yang sudah mereka catatat.

Menulis merupakan satu ketrampilan tertinggi dalam Bahasa. Menulis tidak bisa lahir begitu saja tanpa modal apa-apa, semuanya butuh proses berulang, dan modal pengetahuan yang kuat. Maka dari itu mengamati dan melakukan pencatatan menjadi awalan yang cukup penting untuk kemudian menjawab segala permasalahan yang menjadi kendala murid menulis.

Terakhir, yang keempat adalah munculkan, murid juga perlu pembiasaan untuk berani menampilkan tulisannya dibaca publik, maka dari itu saya memanfaatan Web sekolah, media sosial, bahkan pembukuan karya bersama.

 

Refleksi

Dampak yang jelas terasa dari aksi yang sudah berjalan terlihat ketika murid sudah bisa menulis dengan lancar, runtut dan fokus. Di bandingkan di awal semester, sebagian besar murid masih mengalami kesulitan dalam menuangkan ide/ gagasan yang runtut, kehilangan alur cerita, buntu, dan terjebak pada kemiskinan kosakata yang berakibat pada pengulangan kata yang sama. Situasi tersebut kemudian membuat saya berpikir untuk mencari jalan solusinya, agar permasalahan tersebut tidak berangsur sampai lulus sekolah dan hanya mengandalkan google.

Model ALARM sekaligus membuktikan bahwa menulis tidak bisa lahir instan, semua butuh dilatih dengan proses yang konsisten. Proses yang baik akan menjawab hasil yang baik, model ALARM bisa menjadi satu trobosan dalam memulai untuk menciptakan budaya literatif.

 

 


Berbagi

Postingan Terkait

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?