- Diposting oleh : SMAN 1 BATU SOPANG
- pada tanggal : April 09, 2026
Ki Hajar Dewantara dalam Rahim Pendidikan
Pendidikan mempunyai peran penting dalam memajukan suatu bangsa, menentukan arah dan kualitas suatu kehidupan. Ibarat sebuah tiang kuat untuk menyangga kehidupan agar berjalan selaras dengan tujuan kehidupan yang diinginkan. Meminjam ungkapan Ki Hajar Dewantara bahwa “Pendidikan tempat bersemainya benih-benih kebudayaan dalam masyarakat”. Ungkapan itu semacam aforisme yang menghentak dan menyadarkan posisi pendidikan tidak bisa diksesampingkan dalam memajukan kehidupan.
Ki Hajar Dewantara, menawarkan sebuah gagasan besar dalam dunia pendidikan. Jiwa, raga, dan pemikirannya tidak bisa lepas dari dunia pendidikan negeri kita (Indonesia), bahkan dipercaya negara lain. Konsep besar yang sudah disusun jauh waktu, semasa perjuangan memiliki relevansi dalam konsep modern dalam membuat kualitas pendidikan sempurna. Mampu menciptakan keluaran produk yang diharapkan, dalam bersaing di tengah terjangan global, serta kebudayaan positif yang mengubah kehidupan lebih tertata.
Kurikulum merdeka yang saat ini tengah giat dibumikan dalam rumah pendidikan, ada gagasan dan pandangan besar Ki Hajar Dewatara di belakangnya. Konsep besarnya tidak lain adalah menciptakan pendidikan yang merdeka, artinya ada kebebasan, keleluasaan dan kenyamanan di dalam dunia pendidikan. Pendidik/ guru peran menjadi sentral dalam mewujudkan itu semua. Merekalah aktor-aktor penting yang perlu dibor, diasah dan diperkuat ketrampilannya untuk menciptakan pendidikan yang benar-benar merdeka. Tidak yang menakutkan, mengkerdilkan pemikiran siswa, membatasi dan menyamarkan pendapat siswa.
Ada sembuah analogi sederhana namun bermakna yang mampu mewakili peran guru dalam konteksnya aktor pendidikan, yakni Pak Tani. Seorang pendidik/guru hakikatnya sama dengan seorang Pak Tani. Sedangkan murid dibaratkan bebih-benih yang siap ditanam. Benih-benih tersebut agar tumbuh subur maka Pak Tani perlu menanamnya di tanah yang subur, yang terbuka, dan cukup asupan sinar matahari. Sama halnya dengan seorang guru, jika ingin menciptakan siswa yang baik, maka perlu dipersiapkan tempat yang nyaman dan menyenangkan, tidak hanya tempat tetapi juga pembelajaran yang menyenangkan.
Analogi itu juga sekaligus mengajarkan tentang pemahaman bahwa pendidikan hanya suatu 'tuntutan'. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Seperti analogi penjelasan Pak Tani di atas, bahwa Pak Tani menyampaikannya hanya menuntun tumbuhnya benih padi yang baik menjadi subur, benih jagung menjadi subur dan lain-lain. Artinya Pak Tani tidak bisa memaksakan benih padi menjadi jagung yang subur, begitu juga benih jagung menjadi padi yang subur. Maka dari itu guru juga seperti itu, kodrat lahir yang sudah ada dalam anak perlu dipahami, sehingga peran guru menuntun, menempatkan ke jalan yang lurus.
Analogi itu juga selaras dengan konsep makna tiga dasa-jiwa yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, pertama memandang bahwa siswa seperti kertas kosong, kedua memandang siswa seperti kertas yang sudah penuh dengan tulisan, dan ketiga memandang siswa seperti kertas yang sudah penuh tulisan tapi masih kabur. Ketiga dasar-jiwa ini penting dimakami secara keseluruhan, bahwa pemandangan mengenai siswa tidak selalu melihatnya seperti kertas kosong, yang seenaknya pendidikan masuki/jagali pemahaman yang kita inginkan. Tapi pendidikan perlu melihat bahwa siswa sudah punya isi, hanya mengarahkan agar isi itu tidak terjun ke jalur yang salah, serta pendidikan itu berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan yang berisi baik, agar kelak tampak sebagai budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan, agar jangan sampai menjadi tebal, bahkan semakin suram.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara seperti perpustakaan ilmiah. Merevitalisasi pemikiran KHD di tengah kemodernasian menjadi semacam obat yang menyadarkan bersama. Ternyata sejauh ini pendidikan masih seperti penjara yang menakutkan dan membosankan. Tuntutan keahlian hanya diukur dari satu indikator tertentu, tidak dilihat secara global, serta pembelajaran yang menghardik, mengkerdilkan kebebasan untuk berpendapat kerap ditemukan di ruang-ruang kelas. Sehingga apa yang ada di dalam pemikiran anak justru mereduksi di tengah keterbatasan itu.
Setelah mempelajari pemahaman filosofi Ki Hajar Dewantara, kita (guru) tersadar betapa perlunya melakukan perbaikan, diantaranya; (a) menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, artinya tetap terarah sesuai tujuan yang ingin dicapai di setiap pembelajaran. Membuka ruang-ruang seluas diskusi-luasnya, sehingga siswa dapat bebas menggali gagasannya sedalam mungkin, serta menyuarakannya dengan bebas, (b) membuat kesepakatan kelas, langkah-langkah ini penting untuk dilakukan agar siswa tidak stres. Kesepakatan ini dibangun atas usul, dan kesepakatan bersama saat proses pembelajaran. Siswa dapat mengusulkan kesepakatan sesuai keinginan yang bersama, (c) mendesain pembelajaran yang kolaboratif, artinya perlu menyiapkan pembelajaran yang tidak hanya mengunduh pada guru, tetapi mengajak siswa untuk berpartisipasi dalam proses, (d) menggali kearifan lokal yang memiliki relevansi dengan materi pembelajaran, proses ini penting dilakukan sekaligus menggali nilai-nilai kearifan lokal setempat, (e)menghamba pada siswa, artinya kita (guru) perlu menggali informasi seluas-luasnya mengenai potensi yang sudah pada siswa, kemudiannya dengan baik agar potensi itu bisa berkembang dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir kehadiran Ki Hajar Dewantara sebagai simbul Pendidikan kita (Indonesia) perlu menjadi semacam penguatan agar terus disempurnakan. Sebab setiap zaman ada masanya dan setiap zaman ada tantangannya, dan guru tidak boleh lengah atas alur itu. Dimanapun berada guru harus pintar berkamuflase, pintar menganalisis, pintar memposisikan diri, dan pintar mengasah diri agar tidak ketinggalan zaman. Barangkali satu pesan J Sumardianta dalam bukunya Guru Gokil (inspiratif & kreatif) bisa menjadi wawasan bersama bahwa bahwa guru tidak boleh kaku. Guru gokil adalah guru yang mampu menghidupkan suasana kelas, kreatif, inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman serta dunia murid.
