- Diposting oleh : SMAN 1 BATU SOPANG
- pada tanggal : April 16, 2026

Sumber foto: AI

Dana
Setyowati
SMA Negeri 1 Batu Sopang
Provinsi Kalimantan Timur
Email: danasetyowati24@guru.sma.belajar.id
SITUASI
Kegiatan guru sangat
banyak. Guru harus menyusun modul ajar yang melibatkan pemilihan materi,
pengorganisasian materi ajar, dan mengelola dinamika kelas. Pada proses
penilaian, harus membuat, memberikan, dan menilai ujian, tugas, dan proyek
siswa. Guru juga mengikuti evaluasi kinerja dan memenuhi
persyaratan administratif yang diberlakukan oleh sistem pendidikan atau unit
kerjanya.
Kehebatan Artificial Intelligence (AI) dapat
memberikan pertolongan untuk membantu tugas guru menjadi efisien. AI dapat
mengotomatisasi tugas-tugas administratif
rutin dan memungkinkan guru untuk fokus pada kegiatan yang lebih
berarti. Pemanfaatkan AI secara bijak,
dapat menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, responsif, dan mempersiapkan
siswa untuk menghadapi tuntutan masa depan yang kompleks.
Di SMA Negeri 1 Batu
Sopang, khususnya kelas XI menunjukkan hasil diagnosis awal bahwa peserta didik dalam satu kelas berbeda
dalam berbagai macam hal, tidak hanya dari jenis kelamin dan usia. Perbedaan
juga terjadi pada gaya belajar, bakat, dan minat. Merespons ragam murid, guru
memanfaatkan AI untuk menemukan ide merancang modul ajar, membuat bahan ajar,
menyusun strategi, dan membuat asesmen dengan menyesuaikan kodrat alam dan
kodrat zaman.
Upaya memenuhi kodrat zaman, profil pelajar
Pancasila diharapkan untuk diraih sebagai karakter yang dominan bagi peserta
didik. Pentingnya penguatan karakter Pancasila mencakup pengembangan rasa
tanggung jawab terhadap lingkungan dan keberlanjutan. Profil pelajar Pancasila
bukan hanya mencakup aspek kecerdasan teknologi, tetapi juga menggambarkan
pribadi yang berakhlak baik, memiliki kepekaan sosial, dan berkomitmen pada
nilai-nilai Pancasila sebagai landasan moral dan etika dalam kehidupan
sehari-hari.
Secara khusus yang
melatar belakangi terlaksananya praktik baik ini adalah perlunya efisiensi kerja bagi guru, adanya keragamaan peserta
didik dalam kelas (gaya belajar, bakat, dan minat), tuntutan jaman yang mengharuskan peserta didik
mampu menguasai teknologi, dan pesatnya teknologi dewasa ini telah banyak
mengambil peranan penting termasuk munculnya problematika yang memerlukan tumbuh kembangnya profil pelajar pancasila
pada setiap individu peserta didik.
Praktik
baik ini penting karena pemanfaatan AI memberikan ide dan strategi dalam
optimalisasi pembelajaran diferensiasi dan penerapan
pembelajaran deferensiasi dapat memberikan inspirasi dalam memenuhi kebutuhan peserta didik dalam cakupan konten,
proses, dan produk. Proses kegiatan menumbuhkan
profil pelajar pancasila dalam hal bergotong royong dan bernalar kritis.
Terdapat kegiatan yang dapat dijadikan contoh dalam menggali
potensi-potensi peserta didik untuk dikembangkan secara optimal dengan
menerima kelemahan dari setiap individu untuk dilengkapi oleh individu lain melalui pembentukan kelompok heterogen. Proses
pembelajaran menstimulus agar peserta didik merasa tertantang untuk belajar. Praktik ini
memperhatikan kodrat zaman dan kodrat alam untuk menciptakan
solusi berkelanjutan dan sejalan dengan kebutuhan dan dinamika alam serta
perkembangan zaman.
Peran dan tanggung jawab penulis dalam praktik baik ini adalah sebagai guru yang memetakan gaya belajar peserta didik, perancang metode pembelajaran, menyediakan bahan ajar, menyusun lembar penilaian, memastikan keterlibatan seluruh peserta didik dalam rangkaian pembelajaran, dan mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang tertuang dalam modul ajar.
TANTANGAN
Guru memikul peran dalam
mengoptimalkan potensi peserta didik yang tentunya menghadapi tantangan dalam
pelaksanaannya. Adapun tantangan yang dihadapi dalam praktik baik ini adalah keterampilan mengoperasikan AI, kemampuan dalam
mengidentifikasi masalah yang dapat diatasi dengan penggunaan AI, infrastruktur
yang diperlukan untuk menjalankan model AI tersedia dan dapat menangani beban
kerja yang diinginkan. Melakukan diagnosis awal untuk
mengetahui gaya belajar serta tingkat
pengetahuan peserta didik. Guru juga harus mampu menyusun
dan menemukan bahan ajar yang sesuai dengan
gaya belajar. Keterampilan guru dalam berinovasi
menerapkan model pembelajaran yang menarik
dan menumbuhkan rasa tertantang untuk belajar perlu dilakukan. Guru juga perlu menyiapkan lembar penilaian yang tepat.
Pihak yang dilibatkan dalam
pengimplementasian praktik ini adalah kepala
sekolah, teman sejawat, dan peserta didik. Guru merancang dan
melaksanakan rencana praktik baik dengan ijin kepala sekolah. Proses penyusunan
modul ajar berdasarkan dari konsultasi dengan teman sejawat. Sasaran pada
praktik baik ini adalah peserta didik.
AKSI
Perlu diketahui bahwa
tempat pelaksanaan kegiatan praktik baik ini di SMA Negeri 1 Batu Sopang pada
tanggal 12 September 2023. Waktu pelaksanaan selama 5 jam pembelajaran atau
setara dengan 225 menit. Mode pembelajaran tatap muka di kelas XI.A yaitu kelas
mata pelajaran pilihan Geografi. Terdapat 35 peserta didik dalam satu kelas.
Materi yang diterapkan adalah “Keanekaragaman Hayati”. Adapun tujuan
pembelajaran agar peserta didik lebih memahami tentang keanekaragaman flora dan
fauna di Indonesia serta kesadaran akan
ancaman terhadap keberlanjutan kehidupan di masa yang akan datang khususnya di
Kalimantan Timur.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam
menghadapi tantangan adalah sebagai berikut:
1.
Mengikuti
informasi tentang kemajuan, tren, dan inovasi terbaru tentang AI. Bergabung
dengan komunitas AI di platform media sosial. Mengikuti kursus online atau
webinar yang menawarkan wawasan mendalam tentang topik-topik AI terbaru.
Menggunakan akun “belajar.id” pada quiziz yang terintegrasi AI untuk membuat diaqnosis non kognitif. Berikut langkah dalam pemanfaatan AI pada praktik baik ini.
![]() |
Gambar
2. Langkah Pemanfaatan OpenAI |
Langkah pemanfaatan AI lebih lengkap dapat dilihat di
link: https://youtu.be/tb3NCCEsTZA
1. Menyusun
quisioner sebagai diagnosis awal pembelajaran yang
dibagikan secara online menggunakan quiziz.
Quisioner ditujukan untuk mendapatkan data gaya belajar peserta didik dalam
satu kelas. Selanjutnya melakukan test benar salah sebagai postest pada
pertemuan sebelumnya. Test ditujukan untuk mengukur tingkat pengetahuan
prasyarat.
Diagnosis awal menunjukkan terdapat peserta didik dengan tiga
gaya belajar yang berbeda dalam satu kelas yaitu gaya
belajar visual, auditori dan kinestetik. Rincian yang diperoleh terdapat 14
peserta didik tipe visual, 11 peserta didik tipe auditori, dan 10 peserta didik
tipe kinestetik. Tes benar salah menunjukkan hasil
bahwa peserta didik terpetakan menjadi 24 paham keseluruhan, 6 paham sebagian,
dan 5 belum paham. Tingkat motivasi belajar
dianggap seragam kategori motivasi tinggi karena peserta didik telah memilih
sendiri mata pelajaran geografi ini sesuai bakat, minat, dan kemampuan
yang dimilikinya. Tindak lanjutnya, data yang dihasilkan dijadikan dasar
dalam menyusun modul ajar dan teknik
penilaian yang tepat.
2.
Berdasarkan karakteristik
gaya belajarnya, guru merancang modul ajar dan
menyiapkan bahan ajar yang sesuai. Peserta didik dengan gaya belajar
visual berfokus pada indera penglihatan untuk mengamati dan mempelajari objek
sehingga guru menyediakan bahan ajar dalam
bentuk ringkasan materi yang dibagikan
pada setiap kelompok. Peserta didik dengan gaya belajar auditori mudah
mengingat sesuatu dari apa yang didengar sehingga guru memilihkan video dari
youtube sesuai materi pembelajaran. Peserta didik dengan gaya belajar
kinestetik cenderung menyukai belajar lebih efektif melalui pengalaman fisik
dan aktivitas tubuh. Melalui video yang menyajikan informasi secara visual,
dapat membantu peserta didik kinestetik memahami konsep dengan melihat gerakan
dan perubahan visual. Ini dapat memicu respons sensorik yang positif dan
membantu menjaga fokus.
3. Pada langkah-langkah
pembelajaran ada 3 tahap pelaksanaan. Tiga tahap ini menjadi inti mewujudkan
tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Langkah pertama adalah
mengidentifikasi flora fauna langka dengan mengisi puzzle selama 45
menit. Proses mengisi puzzle dibuat dalam bentuk game sebagai berikut:
a.
Kelas dibagi menjadi 5
kelompok. Setiap kelompok terdiri dari peserta didik dengan 3 gaya belajar.
Peserta didik gaya belajar visual berperan sebagai notulen, kinestetik sebagai
distributor, dan auditori sebagai pendengar sekaligus juru bicara dalam kelompok.
b.
Kelompok menempati posisi
melingkari meja.
c.
Guru memasang pertanyaan puzzle
di dinding depan.
d.
Distributor memisahkan
diri dari kelompok menuju puzzle yang sudah tertempel di dinding, bertugas
membaca, dan mengirim pesan audio yang berupa pertanyaan kepada anggota
auditori, anggota auditori dan visual mencari jawaban puzzle kemudian
jawaban yang ditemukan dituliskan pada template puzzle oleh notulen.
Langkah
yang kedua adalah membuat grup resume. Tahap ini berlangsung selama 10
menit. Gambaran grup resume sebagai berikut:
- Menyampaikan bahwa setiap kelompok terdiri dari individu yang berbakat.
- Menyarankan cara melakukan identifikasi kelebihan yang dimiliki dengan membuat resume.
- Membagikan kertas template untuk menuliskan resume mereka.
- Peserta didik menentukan rencana karya untuk kampanye konservasi flora fauna dengan menyusun strategi bersama kelompoknya kemudian diunggah ke media sosial.
Kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan kampanye
yang telah ditentukan dalam grup resume. Durasi kampanye berlangsung
selama 70 menit.
1.
Guru
melaksanakan asesmen formatif untuk memantau
dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan
pembelajaran. Asesmen ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar
peserta didik, hambatan atau kesulitan yang dihadapi, dan juga untuk mendapatkan informasi perkembangan peserta didik.
Instrumen asesmen formatif pada praktik ini dalam bentuk rubrik.
Tabel 1. Rubrik Ketuntasan Tujuan Pembelajaran
Asesmen
formatif ini bertujuan untuk memberikan umpan balik pada proses. Peserta didik
dianggap memenuhi tujuan
pembelajaran jika mencapai skor rata-rata 75 dengan rumus penghitungan sebagai
berikut:
Pada kolom diskripsi, guru menuliskan uraian tentang kompetensi yang sudah dikuasai dan belum dikuasai oleh peserta didik. Tindak lanjut sebaiknya juga dituliskan di kolom tersebut.
REFLEKSI
Dampak dari pelaksanaan pembelajaran
diferensiasi secara keseluruhan menunjukkan
tercapainya tujuan pembelajaran pada semua aspek penilaian. Dari 35
peserta didik menunjukkan terdapat 40% peserta didik memenuhi kriteria penilaian di rentang skor 90 sampai 100. Sebanyak 45,7% peserta didik
lain berada di rentang skor 80 sampai 90 dan 14,3% peserta didik berada di
rentang skor 70 sampai 80. Hal ini berarti bahwa peserta
didik mampu bekerja sama, memahami tentang keanekaragaman flora dan fauna,
sadar akan ancaman terhadap
keberlanjutan kehidupan di masa yang akan datang, mampu memecahkan masalah,
mampu mengumpulkan data, dan terampil menarik kesimpulan. Hasil tersebut
menyimpulkan bahwa kegiatan ini efektif.
Hasil refleksi yang disampaikan
peserta didik menunjukkan respon bahwa mereka bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran, peserta didik merasa senang dan bangga dapat menunjukkan potensi
mereka yang dituangkan dalam produk atau karya yang dihasilkan.
Implementasi pembelajaran ini juga
mendapatkan respon dari kepala sekolah dan guru lain bahwa mereka mendukung
terlaksananya kegiatan dan termotivasi untuk melakukan inovasi pembelajaran
dengan fokus diferensiasi dengan memanfaatkan AI.
Faktor keberhasilan
dalam melaksanakan implementasi terdapat pada persiapan yang matang, menjalin
hubungan baik dengan seluruh warga sekolah, mampu bekerjasama dengan mereka,
dan percaya diri dalam melakukan inovasi.
Keseluruhan dari kegiatan berjalan lancar. Pembelajaran
yang dapat diambil adalah bahwa pemilihan model pembelajaran disesuaikan dengan
mata pelajaran, media pembelajaran, dan kondisi peserta didik.
Daftar Pustaka
Ahmad, A. (2017). Mengenal Artificial Intelligence,
Machine Learning
Dahar, R. W.1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta:
Penerbit Erlangga
Dahria, M. (2008). Kecerdasan Buatan (Artificial
Intelligence). Jurnal SAINTIKOM, 185-196
Mulyadi, S. 1994. Memahami anak
sebagai individu yang unik, dalam Gunarsa, S.D., Mulyadi, S. dan Satiadarma,
M.P. (editor) Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak. Jakarta:
Universitas Tarumanagara UPT Penerbitan
Nasution. 2008. Berbagai
Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara
Priastomo, Yasinto Sindhu. 2021. Geografi
Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga
Susilo, M. J. 2006. Gaya Belajar
Menjadikan Makin Pintar. Yogyakarta: Penerbit Pinus
Zaini, Hisyam, Bermawy Munthe, dan
Sekar Ayu Aryani.(2008). Strategi Pembelajaran Aktif.Yogyakarta: Pustaka Insan
Madani.
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)