Skip to Content
Loading...
Admin Humas
Admin Humas
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Artificial Intelligence, Pembelajaran Diferensiasi, dan Kelompok Heterogen

Sumber foto: AI

Dana Setyowati
SMA Negeri 1 Batu Sopang Provinsi Kalimantan Timur
Email: danasetyowati24@guru.sma.belajar.id


SITUASI

Kegiatan guru sangat banyak. Guru harus menyusun modul ajar yang melibatkan pemilihan materi, pengorganisasian materi ajar, dan mengelola dinamika kelas. Pada proses penilaian, harus membuat, memberikan, dan menilai ujian, tugas, dan proyek siswa.  Guru juga  mengikuti evaluasi kinerja dan memenuhi persyaratan administratif yang diberlakukan oleh sistem pendidikan atau unit kerjanya.

 Kehebatan Artificial Intelligence (AI) dapat memberikan pertolongan untuk membantu tugas guru menjadi efisien. AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas administratif  rutin dan memungkinkan guru untuk fokus pada kegiatan yang lebih berarti. Pemanfaatkan  AI secara bijak, dapat menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, responsif, dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tuntutan masa depan yang kompleks.

Di SMA Negeri 1 Batu Sopang, khususnya kelas XI menunjukkan hasil diagnosis awal  bahwa peserta didik dalam satu kelas berbeda dalam berbagai macam hal, tidak hanya dari jenis kelamin dan usia. Perbedaan juga terjadi pada gaya belajar, bakat, dan minat. Merespons ragam murid, guru memanfaatkan AI untuk menemukan ide merancang modul ajar, membuat bahan ajar, menyusun strategi, dan membuat asesmen dengan menyesuaikan kodrat alam dan kodrat zaman.

Upaya  memenuhi kodrat zaman, profil pelajar Pancasila diharapkan untuk diraih sebagai karakter yang dominan bagi peserta didik. Pentingnya penguatan karakter Pancasila mencakup pengembangan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan keberlanjutan. Profil pelajar Pancasila bukan hanya mencakup aspek kecerdasan teknologi, tetapi juga menggambarkan pribadi yang berakhlak baik, memiliki kepekaan sosial, dan berkomitmen pada nilai-nilai Pancasila sebagai landasan moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Secara khusus yang melatar belakangi terlaksananya praktik baik ini adalah perlunya efisiensi kerja bagi guru, adanya keragamaan peserta didik dalam kelas (gaya belajar, bakat, dan minat), tuntutan jaman yang mengharuskan peserta didik mampu menguasai teknologi, dan pesatnya teknologi dewasa ini telah banyak mengambil peranan penting termasuk munculnya problematika yang memerlukan tumbuh kembangnya profil pelajar pancasila pada setiap individu peserta didik. 

Praktik baik ini penting karena pemanfaatan AI memberikan ide dan strategi dalam optimalisasi pembelajaran diferensiasi dan penerapan pembelajaran deferensiasi dapat memberikan inspirasi dalam memenuhi kebutuhan peserta didik dalam cakupan konten, proses, dan produk. Proses kegiatan menumbuhkan profil pelajar pancasila dalam hal bergotong royong dan bernalar kritis. Terdapat kegiatan yang dapat dijadikan contoh dalam menggali potensi-potensi peserta didik untuk dikembangkan secara optimal dengan menerima kelemahan dari setiap individu untuk dilengkapi oleh individu lain melalui pembentukan kelompok heterogen. Proses pembelajaran menstimulus agar peserta didik merasa tertantang untuk belajar. Praktik ini memperhatikan kodrat zaman dan kodrat alam untuk menciptakan solusi berkelanjutan dan sejalan dengan kebutuhan dan dinamika alam serta perkembangan zaman.

Peran dan tanggung jawab penulis dalam praktik baik ini adalah sebagai guru yang memetakan gaya belajar peserta didik, perancang metode pembelajaran, menyediakan bahan ajar, menyusun lembar penilaian, memastikan keterlibatan seluruh peserta didik dalam rangkaian pembelajaran, dan mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang tertuang dalam modul ajar.

TANTANGAN

Guru memikul peran dalam mengoptimalkan potensi peserta didik yang tentunya menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya. Adapun tantangan yang dihadapi dalam praktik baik ini adalah keterampilan mengoperasikan AI, kemampuan dalam mengidentifikasi masalah yang dapat diatasi dengan penggunaan AI, infrastruktur yang diperlukan untuk menjalankan model AI tersedia dan dapat menangani beban kerja yang diinginkan. Melakukan diagnosis awal untuk mengetahui  gaya belajar serta tingkat pengetahuan peserta didik. Guru juga harus mampu menyusun dan menemukan bahan ajar yang sesuai dengan gaya belajar. Keterampilan guru dalam berinovasi menerapkan model pembelajaran yang menarik dan menumbuhkan rasa tertantang untuk belajar perlu dilakukan. Guru juga perlu menyiapkan lembar penilaian yang tepat.

Pihak yang dilibatkan dalam pengimplementasian praktik ini adalah kepala sekolah, teman sejawat, dan peserta didik. Guru merancang dan melaksanakan rencana praktik baik dengan ijin kepala sekolah. Proses penyusunan modul ajar berdasarkan dari konsultasi dengan teman sejawat. Sasaran pada praktik baik ini adalah peserta didik.

AKSI

Perlu diketahui bahwa tempat pelaksanaan kegiatan praktik baik ini di SMA Negeri 1 Batu Sopang pada tanggal 12 September 2023. Waktu pelaksanaan selama 5 jam pembelajaran atau setara dengan 225 menit. Mode pembelajaran tatap muka di kelas XI.A yaitu kelas mata pelajaran pilihan Geografi. Terdapat 35 peserta didik dalam satu kelas. Materi yang diterapkan adalah “Keanekaragaman Hayati”. Adapun tujuan pembelajaran agar peserta didik lebih memahami tentang keanekaragaman flora dan fauna di Indonesia serta kesadaran  akan ancaman terhadap keberlanjutan kehidupan di masa yang akan datang khususnya di Kalimantan Timur.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menghadapi tantangan adalah sebagai berikut:

1.        Mengikuti informasi tentang kemajuan, tren, dan inovasi terbaru tentang AI. Bergabung dengan komunitas AI di platform media sosial. Mengikuti kursus online atau webinar yang menawarkan wawasan mendalam tentang topik-topik AI terbaru.

Menggunakan akun “belajar.id” pada quiziz yang terintegrasi AI untuk membuat diaqnosis non kognitif. Berikut langkah dalam pemanfaatan AI pada praktik baik ini.



Gambar 2. Langkah Pemanfaatan OpenAI 


Langkah pemanfaatan AI lebih lengkap dapat dilihat di link: https://youtu.be/tb3NCCEsTZA

1.  Menyusun quisioner sebagai diagnosis awal pembelajaran yang dibagikan secara online menggunakan quiziz. Quisioner ditujukan untuk mendapatkan data gaya belajar peserta didik dalam satu kelas. Selanjutnya melakukan test benar salah sebagai postest pada pertemuan sebelumnya. Test ditujukan untuk mengukur tingkat pengetahuan prasyarat.

Diagnosis awal menunjukkan terdapat peserta didik dengan tiga gaya belajar yang berbeda dalam satu kelas yaitu gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Rincian yang diperoleh terdapat 14 peserta didik tipe visual, 11 peserta didik tipe auditori, dan 10 peserta didik tipe kinestetik. Tes benar salah menunjukkan hasil bahwa peserta didik terpetakan menjadi 24 paham keseluruhan, 6 paham sebagian, dan 5 belum paham. Tingkat motivasi belajar dianggap seragam kategori motivasi tinggi karena peserta didik telah memilih sendiri mata pelajaran geografi ini sesuai bakat, minat, dan kemampuan yang dimilikinya. Tindak lanjutnya, data yang dihasilkan dijadikan dasar dalam  menyusun modul ajar dan teknik penilaian yang tepat.

2.        Berdasarkan karakteristik gaya belajarnya, guru merancang modul ajar dan menyiapkan bahan ajar yang sesuai. Peserta didik dengan gaya belajar visual berfokus pada indera penglihatan untuk mengamati dan mempelajari objek sehingga guru menyediakan bahan ajar dalam bentuk ringkasan materi  yang dibagikan pada setiap kelompok. Peserta didik dengan gaya belajar auditori mudah mengingat sesuatu dari apa yang didengar sehingga guru memilihkan video dari youtube sesuai materi pembelajaran. Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik cenderung menyukai belajar lebih efektif melalui pengalaman fisik dan aktivitas tubuh. Melalui video yang menyajikan informasi secara visual, dapat membantu peserta didik kinestetik memahami konsep dengan melihat gerakan dan perubahan visual. Ini dapat memicu respons sensorik yang positif dan membantu menjaga fokus.

3.  Pada langkah-langkah pembelajaran ada 3 tahap pelaksanaan. Tiga tahap ini menjadi inti mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Langkah pertama adalah mengidentifikasi flora fauna langka dengan mengisi puzzle selama 45 menit. Proses mengisi puzzle dibuat dalam bentuk game sebagai berikut:

a.        Kelas dibagi menjadi 5 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari peserta didik dengan 3 gaya belajar. Peserta didik gaya belajar visual berperan sebagai notulen, kinestetik sebagai distributor, dan auditori sebagai pendengar sekaligus juru bicara dalam kelompok.

b.        Kelompok menempati posisi melingkari meja.

c.        Guru memasang pertanyaan puzzle di dinding depan.

d.        Distributor memisahkan diri dari kelompok menuju puzzle yang sudah tertempel di dinding, bertugas membaca, dan mengirim pesan audio yang berupa pertanyaan kepada anggota auditori, anggota auditori dan visual mencari jawaban puzzle kemudian jawaban yang ditemukan dituliskan pada template puzzle oleh notulen.

Langkah yang kedua adalah membuat grup resume. Tahap ini berlangsung selama 10 menit. Gambaran grup resume sebagai berikut:

  1. Menyampaikan bahwa setiap kelompok terdiri dari individu yang berbakat.
  2. Menyarankan cara melakukan identifikasi kelebihan yang dimiliki dengan membuat resume.
  3. Membagikan kertas template untuk menuliskan resume mereka.
  4. Peserta didik menentukan rencana karya untuk kampanye konservasi flora fauna dengan menyusun strategi bersama kelompoknya kemudian diunggah ke media sosial.


Kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan kampanye yang telah ditentukan dalam grup resume. Durasi kampanye berlangsung selama 70 menit.

1.        Guru melaksanakan asesmen formatif untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, hambatan atau kesulitan yang dihadapi, dan juga untuk mendapatkan informasi perkembangan peserta didik. Instrumen asesmen formatif pada praktik ini dalam bentuk rubrik.

Tabel 1. Rubrik Ketuntasan Tujuan Pembelajaran

Asesmen formatif ini bertujuan untuk memberikan umpan balik pada proses. Peserta didik dianggap memenuhi tujuan pembelajaran jika mencapai skor rata-rata 75 dengan rumus penghitungan sebagai berikut:


Pada kolom diskripsi, guru menuliskan uraian tentang kompetensi yang sudah dikuasai dan belum dikuasai oleh peserta didik. Tindak lanjut sebaiknya juga dituliskan di kolom tersebut.

REFLEKSI

Dampak dari pelaksanaan pembelajaran diferensiasi secara keseluruhan menunjukkan tercapainya tujuan pembelajaran pada semua aspek penilaian. Dari 35 peserta didik menunjukkan terdapat 40% peserta didik memenuhi kriteria  penilaian di rentang skor  90 sampai 100. Sebanyak 45,7% peserta didik lain berada di rentang skor 80 sampai 90 dan 14,3% peserta didik berada di rentang skor 70 sampai 80. Hal ini berarti bahwa peserta didik mampu bekerja sama, memahami tentang keanekaragaman flora dan fauna, sadar  akan ancaman terhadap keberlanjutan kehidupan di masa yang akan datang, mampu memecahkan masalah, mampu mengumpulkan data, dan terampil menarik kesimpulan. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa kegiatan ini efektif.

Hasil refleksi yang disampaikan peserta didik menunjukkan respon bahwa mereka bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, peserta didik merasa senang dan bangga dapat menunjukkan potensi mereka yang dituangkan dalam produk atau karya yang dihasilkan.

Implementasi pembelajaran ini juga mendapatkan respon dari kepala sekolah dan guru lain bahwa mereka mendukung terlaksananya kegiatan dan termotivasi untuk melakukan inovasi pembelajaran dengan fokus diferensiasi dengan memanfaatkan AI.

Faktor keberhasilan dalam melaksanakan implementasi terdapat pada persiapan yang matang, menjalin hubungan baik dengan seluruh warga sekolah, mampu bekerjasama dengan mereka, dan percaya diri dalam melakukan inovasi. Keseluruhan dari kegiatan berjalan lancar. Pembelajaran yang dapat diambil adalah bahwa pemilihan model pembelajaran disesuaikan dengan mata pelajaran, media pembelajaran, dan kondisi peserta didik.

 

  

 

Daftar Pustaka

Ahmad, A. (2017). Mengenal Artificial Intelligence, Machine Learning

Dahar, R. W.1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga

Dahria, M. (2008). Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Jurnal SAINTIKOM, 185-196

Mulyadi, S. 1994. Memahami anak sebagai individu yang unik, dalam Gunarsa, S.D., Mulyadi, S. dan Satiadarma, M.P. (editor) Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak. Jakarta: Universitas Tarumanagara UPT Penerbitan

Nasution. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara

Priastomo, Yasinto Sindhu. 2021. Geografi Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga

Susilo, M. J. 2006. Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar. Yogyakarta: Penerbit Pinus

Zaini, Hisyam, Bermawy Munthe, dan Sekar Ayu Aryani.(2008). Strategi Pembelajaran Aktif.Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.


Berbagi

Postingan Terkait

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?